Pantaskah Kita disebut “Generasi
Micin” ?
Pernahkah kita berpikir bahwa hampir
setiap istilah beken yang kita dengar
saat ini merupakan hasil dari produk generasi millenial?
Generasi
millenial saat ini memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa,
terkhusus karena generasi ini menghimpun pemuda pemudi yang produktif dan
berpotensi untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitar, bangsa dan negara.
Generasi ini memiliki ciri kreatif dan peka terhadap perkembangan zaman
terutama dalam hal perkembangan teknologi informasi yang semakin hari semakin
canggih. Meski demikian, kepekaan ini tidak dibarengi dengan pola pikir
ke-Indonesia-an yang mulai mengalami dekadensi akibat arus budaya dampak
globalisasi yang menyusup melalui sisi-sisi menarik yang ditawarkan zaman ini.
Data menunjukkan sekitar 82
persen pengguna internet di Indonesia didominasi oleh pemuda dengan rentang
usia sekitar 20-24 tahun serta 25-29 tahun. Angka ini lebih tinggi dari
kelompok usia lain berdasarkan riset yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Jasa
Internet Indonesia (APJII). Dengan persentase seperti ini, dipastikan sekitar
22,3 juta jiwa penduduk usia 20-24 tahun dan sekitar 24 juta jiwa penduduk
kelompok usia 24-29 tahun merupakan pengguna aktif internet di Indonesia yang
terpapar dengan arus budaya globalisasi dari luar Indonesia. Hal ini merupakan
implikasi dari akses informasi yang semakin luas serta komunikasi yang saat ini
lebih mengandalkan media sosial sebagai media utama. Senada dengan pergeseran
pola komunikasi serta akses informasi yang luas, terjadi dekadensi nilai nilai
ke Indonesia-an mulai dari sisi perilaku, budaya turun temurun, serta yang
terutama bahasa.
Bahasa Indonesia dewasa kini
tidak menemukan jati diri utamanya lagi. Banyak yang telah mengalami modifikasi
sebagai bentuk penyesuaian dengan zaman sekarang. Bahkan, istilah istilah yang
berkembang sekarang merujuk ke arah menjustifikasi suatu kaum yang berasal dari
generasinya sendiri.
Generasi millenial menciptakan suatu produk yang destruktif di zaman kini, yaitu kata-kata
Perlahan tapi pasti, generasi
millenial mengkotak-kotakkan dirinya sendiri dalam stigma negatif. Menyerang
satu sama lain dengan menggunakan media yang sama sekali abstrak, dapat
menimbulkan keambiguan dalam mengutarakan statement ataupun pendapat.
Keambiguan dalam menyampaikan pendapat di media sosial seperti ini yang
kemudian dapat menjadi faktor utama stigma-stigma negatif tersebut melekat erat
pada generasi millenial. Cyber bullying
pun memenuhi trending topic di media
sosial.
Ada apa dengan
generasi millenial?
Generasi
millenial adalah generasi yang paling produktif dalam satu dekade terakhir.
Berada pada tahun kelahiran antara 1980 sampai dengan 1997, generasi ini
dikatakan paling gencar melakukan inovasi dalam berbagai sektor. Tidak heran
banyak terobosan-terobosan kreatif yang dilakukan oleh generasi ini. Sebut saja
salah satunya Mark Zuckerberg, CEO dan Founder Facebook yang menuai
kesuksesannya di usia muda. Kreatifitas, keberanian untuk mencoba sesuatu yang
baru, serta semangat yang menggebu-gebu dalam menunjukkan kebolehan diri membuat
generasi ini kemudian dijuluki dengan generasi millenial.
Sayangnya,
dengan potensi besar yang dimiliki generasi millenial ini, masih banyak yang
tidak terarah dengan tepat. Sumbu emosi yang labil bagi sebagian kaum dari
generasi ini kadang menjadikan generasi ini sebagai sumber cyber bullying. Bahkan yang anehnya, generasi millenial sendiri
yang memberikan “cap” khusus bagi mereka (generasi millenial) yang berpikiran
pendek sebelum bertindak.
Sebut saja
yang menjadi perbincangan hangat saat ini adalah “generasi micin”. Generasi
micin merujuk pada perilaku orang-orang zaman sekarang yang tidak mampu untuk
dimengerti, memiliki tingkah laku aneh dan tidak pada umumnya. Generasi micin
dalam konteks ini dapat juga merujuk pada generasi yang gemar makan micin,
sehingga kualitas pemikiran anak zaman dahulu berbeda dengan anak zaman
sekarang yang dalam hal ini sebagian kaum dari generasi milenial masih dianggap
labil dan berpikiran pendek. Maklum, stigma negatif telah melekat pada micin
yang dikatakan dapat secara perlahan merusak otak manusia. Namun, betulkah
demikian?
Apa yang salah dengan micin?
Micin atau
secara ilmiahnya kita biasa sebut dengan MSG (Monosodium Glutamat) merupakan
senyawa aditif yang menyebabkan ketergantungan, biasanya digunakan dalam bumbu
praktis penyedap makanan. Konon, micin dikatakan sebagai penyebab utama terjadinya
sindrom restoran cina yang merupakan sindrom yang muncul setelah seseorang
mengkonsumsi makanan cina (chinese foods). Gejala-gejala yang ditimbulkan pun
beragam seperti sakit kepala, mual dan mati rasa.
Betulkah micin menyebabkan kebodohan?
Nama baik micin sepertinya telah
terlanjur ternoda dengan stigma “penyebab kebodohan” jika dikonsumsi dalam
jangka waktu yang panjang. Namun tahukah kita bahwa sampai saat ini belum ada bukti
ilmiah kuat yang mampu menjelaskan seorang anak akan menjadi bodoh jika secara
terus menerus mengkonsumsi micin?
Dikutip dari hasil evaluasi oleh Journal of Nutrition, penelitian yang membuktikan
kerusakan otak akibat micin (MSG) memiliki beberapa kelemahan, yakni
menggunakan subjek tikus atau primata (selain manusia), dalam dosis tinggi yang
tidak mungkin terjadi pada manusia. Selain daripada itu, pada primata, dosis
diberikan langsung dengan cara disuntikkan, berbeda dengan manusia yang
dikonsumsi tidak secara langsung melalui bumbu penyedap makanan. Namun demikian,
jika diberikan kepada orang hipersensitif dalam dosis tertentu dapat
menyebabkan pusing, mual, sakit kepala, keringat dingin, hingga pada perilaku. Pada
orang umumnya, micin dapat menyebabkan hipertensi.
Kaitan Generasi Micin dan Generasi Millenial
Generasi micin sebenarnya hanya
kata kiasan yang digelontorkan beberapa orang yang kemudian menjadi viral di
media sosial. Hal yang perlu diperhatikan adalah generasi micin diperuntukkan
bagi mereka yang memiliki pikiran pendek sebelum bertindak. Artinya, secara
kasar, generasi micin merupakan julukan yang diperuntukkan bagi orang-orang
yang “bodoh”.
Demikian, cap yang diberikan
generasi millenial terhadap “generasi micin” saat ini sebenarnya kurang tepat.
Adapun kebodohan bukan disebabkan oleh micin namun disebabkan oleh diri kita
sendiri yang malas untuk belajar dan berusaha. Kebodohan hanya bisa diberantas
dengan belajar terus menerus. Kita sebagai generasi millenial pun harus lebih
belajar lagi sebelum memberikan cap generasi micin kepada seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar