Siri’ Na Pacce : Falsafah yang Rentan Salah Interpretasi
Oleh :
A. Khalil
Gibran Basir
Jika
dahulu hanya dibutuhkan seorang Sultan Hasanuddin untuk membuat pemerintah
kolonial Belanda merasa segan, mungkin sekarang ini dibutuhkan seribu pemuda
Makassar untuk menggantikan posisinya. Pemuda Makassar sekarang ini kehilangan
jiwa patriotik seorang Sultan Hasanuddin, yang sebenarnya sedari dulu tertanam
pada jiwa berani orang-orang suku Bugis-Makassar. Keberanian seorang Sultan
Hasanuddin rentan salah diartikan oleh generasi muda Makassar saat ini. Saling
bertukar pukulan, menghujankan anak panah, tawuran mahasiswa, serta generasi geng motor
yang menjamur. Inikah
wajah Makassar yang akan ditampilkan ke seluruh dunia? Kemanakah perginya “Ayam
jantan dari Timur” yang selalu didengungkan dahulu?
Suku Bugis-Makassar dikenal mencetak
banyak tokoh dengan watak kepemimpinannya seperti Sultan Hasanuddin, Tun Abdul
Razak, Jenderal M. Yusuf, dan Jusuf Kalla. Keempat tokoh tersebut adalah putra
asli Bugis-Makassar yang memegang erat falsafah hidup suku Bugis-Makassar.
Falsafah itu dikenal dengan Siri’ Na
Pesse’ (dalam bahasa Bugis) atau Siri’
Na Pacce (dalam bahasa Makassar). Siri’
Na Pacce merupakan gabungan dari dua unsur adat Bugis-Makassar yaitu Siri’ dan Pacce. Siri’ dalam bahasa
Makassar diartikan sebagai rasa malu, harga diri dan menjaga kehormatan. Siri’ merupakan hal yang sakral bagi
masyarakat Bugis-Makassar. Bahkan menurut kepercayaan suku Bugis-Makassar, ketika
seseorang telah kehilangan Siri’-nya,
maka tidak ada lagi artinya untuk hidup di dunia ini. Menjaga harga diri bagi
masyarakat Bugis-Makassar sampai akhir hayat lebih penting dibandingkan dengan
nyawa sendiri. Oleh karena itu, Siri’ menjadi kekuatan spiritual yang
menggerakkan hati masyarakat Bugis-Makassar untuk rela mengorbankan nyawa demi
sebuah perjuangan. Prinsip Siri’
inilah yang membentuk watak keberanian masyarakat suku Bugis-Makassar. Berbeda
dengan Siri’, Pacce diartikan sebagai rasa kesetiakawanan dan kepedulian sosial. Pacce membentuk masyarakat
Bugis-Makassar menjadi masyarakat dengan solidaritas dan rasa empati yang
tinggi. Dalam bermasyarakat dan kepemimpinan, masyarakat suku Bugis-Makassar
selalu mengutamakan kepentingan bersama sehingga kepemimpinan berjalan dengan
merakyat. Hal inilah yang mendorong masyarakat Bugis-Makassar memiliki
kemampuan mudah berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Jusuf Kalla
adalah salah satu sosok yang berhasil mengaktualisasikan kemampuan ini untuk mendamaikan
konflik berkepanjangan antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Meskipun Siri’ dan Pacce merupakan
dua hal yang berbeda, namun keduanya interdependen. Hal ini dikarenakan
keberadaan Siri’ mendukung
pengaktualisasian Pacce, begitu pula
sebaliknya. Kedua prinsip ini menjadi pegangan hidup bagi masyarakat Sulawesi
Selatan di dalam mengatur pranata dan sistem sosial yang telah diterima secara
turun-temurun serta melalui proses yang panjang. Demikian, falsafah inilah yang
membentuk jiwa kepemimpinan tokoh-tokoh besar di Sulawesi Selatan.
Berkaca
pada realitas satu dekade terakhir, nilai-nilai Siri’ Na Pacce mengalami alienasi dari masyarakat Sulawesi Selatan.
Nilai-nilai moral Siri’ dan Pacce mengalami dekadensi yang cukup
tajam akibat lemahnya sikap, melunturnya etika dalam kehidupan bermasyarakat
serta perspektif pemuda Makassar yang timpang. Siri’ dan Pacce dewasa
kini diartikan sebagai ajang unjuk kekuatan. Ketika terjadi pertikaian antara
dua pihak, kedua pihak saling melemparkan cacian, makian, bahkan tidak jarang
berakhir dengan pertumpahan darah. Menggunakan rasa Siri’
sebagai dalil pembenaran lalu bertindak tanpa konsep hanya untuk
menunjukkan pihak yang lebih hebat. Akibatnya, kedua pihak yang saling bertikai
tidak ada yang mau mengalah. Kedua pihak yang saling bertikai terus
mempertahankan sikap arogannya. Meskipun tidak jarang permasalahan diakibatkan
oleh hal yang sepele seperti permasalahan antara individu dan individu lainnya.
Namun, hal inilah yang memicu pecahnya konflik antar kelompok. Kedua pihak berdalih,
bahwa ini adalah implementasi dari sikap Pacce.
Padahal tidak semua permasalahan dapat diselesaikan secara berkelompok. Miris,
realitas pemuda Makassar sekarang ini kontra dengan makna Siri’ dan Pacce yang
sebenarnya. Hal ini disebabkan karena Siri’
dan Pacce hanya dipandang sebelah
mata, tidak dimaknai secara mendalam.
Budaya
mengajarkan tentang falsafah hidup manusia. Tergerusnya nilai-nilai falsafah
hidup Siri’ Na Pacce merupakan bukti tergesernya
nilai budaya lokal. Pergeseran nilai budaya lokal diperparah oleh derasnya arus
globalisasi yang mengakibatkan budaya global dan budaya lokal memiliki batasan
yang semakin tidak jelas, terutama dalam konteks sosial dan perilaku. Hal yang
memprihatinkan adalah masyarakat memiliki kecenderungan lebih cepat mengadopsi
budaya global yang negatif jika dibandingkan dengan budaya lokal yang positif
dan produktif. Tampak bahwa lemahnya sikap dan daya kritis masyarakat
mengakibatkan kurangnya kemampuan menyeleksi budaya global sehingga terjadi
pengikisan nilai-nilai lokal yang positif.
Lemahnya
sikap dan daya kritis masyarakat terhadap perkembangan budaya tidak terlepas
dari pemahaman masyarakat yang tidak memadai atas esensi kebudayaan. Pemahaman
atas esensi kebudayaan merupakan hal yang penting agar dapat menjadi filter kebudayaan bagi masyarakat. Namun,
sebelum seseorang memahami esensi dari kebudayaan, terlebih dahulu harus
memecahkan pertentangan-pertentangan yang ada di dalamnya.
Kesadaran
tentang perkembangan unsur-unsur kebudayaan merupakan pertentangan pertama yang
harus dipecahkan. Perlu diketahui bahwa suatu kebudayaan bersifat stabil akan
tetapi juga bersifat dinamis sehingga setiap kebudayaan mengalami
perubahan-perubahan yang kontinu. Setiap kebudayaan selalu mengalami
perkembangan, hanya budaya yang mati saja yang bersifat statis. Seringkali
masyarakat tidak menyadari perubahan ini. Sebagai contoh, dengan perkembangan
teknologi saat ini, gaya berkomunikasi lebih cenderung menggunakan jasa gadget dan internet. Hal ini menyebabkan akses untuk berkomunikasi lebih
mudah. Namun, perkembangan semacam ini dapat berdampak negatif pada kebudayaan
lokal jika tidak diantisipasi secara benar. Contoh lainnya yaitu gaya
berpakaian zaman dahulu dan sekarang. Jika dahulu gaya berpakaian cenderung
tertutup, berbeda dengan zaman sekarang yang cenderung terbuka. Bahkan sekarang
di masyarakat tidak jarang kita menemukan seseorang dengan gaya berpakaian yang
tidak sesuai dengan nilai budaya lokal. Mungkin perubahan-perubahan seperti ini
dianggap biasa oleh masyarakat. Namun, perubahan dan penyesuaian budaya semacam
ini seharusnya tidak diterima secara mentah-mentah oleh masyarakat. Masyarakat
harus sadar dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Masyarakat harus
mengetahui unsur-unsur budaya yang tetap stabil dan unsur-unsur budaya yang
mengalami perubahan. Dengan demikian, masyarakat dituntut untuk bersifat kritis
terhadap perubahan yang terjadi.
Selain
bersifat kritis terhadap perubahan yang terjadi, masyarakat harus menyadari
bahwa kebudayaan turut serta menentukan jalan hidup seseorang. Banyak dari
anggota masyarakat tidak menyadari hal ini. Meskipun kebudayaan merupakan
atribut manusia, jarang kita menemukan seseorang yang mengenali dan meyakini
kebudayaannya sendiri secara utuh. Betapa sulitnya untuk menguasai budaya
secara utuh di zaman modern ini, seolah-olah budaya dipelajari secara terpisah
dari diri sendiri. Padahal kebudayaan merupakan abstraksi pola perilaku yang
menunjukkan kepribadian seseorang. Demikian sehingga kebudayaan memegang peran
atas keputusan-keputusan yang diambil oleh seseorang untuk menentukan jalan
hidupnya.
Kebudayaan
menunjukkan ciri khas perilaku dan kepribadian masyarakat. Kehilangan identitas
budaya sendiri berarti kehilangan kepribadian yang menjadi ciri khas masyarakat
setempat. Oleh karena itu, kehilangan
identitas budaya sendiri mempengaruhi jalan hidup manusia kedepannya.
Melihat
fenomena yang terjadi pada generasi muda Makassar saat ini merupakan bukti terjadinya
krisis identitas budaya. Menemukan kembali identitas budaya Bugis-Makassar
merupakan tantangan terbesar bagi generasi muda Makassar di samping semakin
cepatnya arus globalisasi saat ini. Untuk mengembalikan identitas budaya
Bugis-Makassar, diperlukan strategi yang efektif. Langkah pertama yang harus
dilakukan adalah mengembalikan aktualisasi falsafah hidup Siri’ Na Pacce pada tempatnya. Aktualisasi falsafah hidup pada
hakikatnya berawal dari pemahaman yang mumpuni
atas falsafah hidup itu sendiri. Hal ini berarti falsafah Siri’ Na Pacce dapat diaktualisasikan jika pemahaman atas falsafah Siri’ Na Pacce dipahami secara menyeluruh. Pemahaman yang
bersifat parsial akan menyebabkan ketimpangan perspektif atas falsafah itu
sendiri. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam menginterpretasikan Siri’ Na Pacce.
Dalam
menginterpretasikan Siri’ Na Pacce
tidak terlepas dari keterkaitannya dengan unsur-unsur adat lainnya. Siri’ Na Pacce tidak dapat berdiri
sendiri jika tidak dikaitkan dengan unsur adat lainnya. Salah satu unsur adat
yang penting yaitu mangngalli. Mangngalli merupakan unsur adat yang
mencakup kualitas keagamaan, pengetahuan, kepribadian yang baik dan kekayaan.
Dalam perspektif keagamaan, Siri’ merepresentasikan
rasa pengabdian kepada Tuhan. Rasa Siri’
mengarahkan seseorang untuk tidak melupakan Tuhan yang telah menciptakan manusia,
dunia dan seisinya. Dalam perspektif pengetahuan, Siri’ dan Pacce merepresentasikan
rasa ingin tahu dan implementasi pengetahuan kepada masyarakat. Siri’ Na Pacce menciptakan rasa malu dan takut dicap
sebagai orang tidak berpendidikan sehingga memacu seseorang untuk menuntut ilmu
pengetahuan, kemudian mengimplementasikan ilmunya kepada masyarakat sebagai
bentuk pengabdian. Dalam hal pembentukan kepribadian dan kekayaan, rasa Siri’ dan Pacce memacu sifat tanggung jawab, rasa hormat terhadap orang lain
serta kerja keras untuk mencapai kesejahteraan. Demikian, integrasi mangngalli
dan falsafah Siri’ Na Pacce akan
mendorong terciptanya jiwa intelektual, rasa hormat kepada orang lain, tanggung
jawab, serta kerja keras yang tetap tidak melenceng dari koridor keagamaan.
Penyampaian
nilai moral Siri’ Na Pacce di era
modern ini adalah tantangan besar bagi masyarakat Sulawesi Selatan sebab
eksistensi nilai budaya lokal semakin tergeser oleh budaya global. Sekadar
menyampaikan tidaklah cukup. Dibutuhkan strategi dan penyampaian secara efektif
agar nilai Siri’ Na Pacce tersampaikan
secara komprehensif. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah memasukkan
unsur kebudayaan lokal ke dalam berbagai pelatihan kepemimpinan. Sekarang ini
banyak ditemukan pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk membentuk jiwa
seorang pemimpin. Namun, konsep pelatihan kepemimpinan sekarang ini cenderung
sama. Masih sedikit ditemukan pelatihan kepemimpinan yang menyertakan nilai
budaya lokal di dalam muatan materinya. Sehingga, ditinjau dari pemahaman
budaya lokal, tujuan pelatihan tidak tercapai sepenuhnya. Akibatnya, bibit
pemimpin yang dihasilkan masih awam terhadap budaya lokal. Pelatihan
kepemimpinan seharusnya membentuk pemimpin yang memahami budaya lokal seperti Siri’ Na Pacce agar pemimpin dapat membaca
karakteristik masyarakat . Demikian, seorang pemimpin dapat menemukan gaya
kepemimpinan yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar.
Pemahaman budaya lokal tidak hanya dibutuhkan
oleh seorang pemimpin. Setiap detik, menit, hari, dan tahunnya terlahir generasi
potensial yang merupakan bibit seorang pemimpin. Agar penyampaian nilai moral Siri’ Na Pacce berjalan secara sustainable, pemahaman budaya lokal
harus ditanamkan sejak dini melalui jalur pendidikan. Sistem pendidikan saat
ini membutuhkan budaya lokal untuk menciptakan pelajar yang berkarakter.
Berbagai kurikulum telah dirumuskan oleh pemerintah, namun melihat perilaku
pelajar Indonesia saat ini merupakan bukti bahwa kurikulum yang ada belum
efektif membentuk generasi muda yang mencintai budaya lokal secara utuh. Oleh
karena itu, perlu kurikulum pembelajaran yang menjadi abstraksi
pengimplementasian budaya lokal secara spesifik mulai dari tingkat sekolah
dasar hingga perguruan tinggi.
Pada
kurikulum pembelajaran tingkat sekolah dasar, implementasi nilai budaya lokal
ditekankan pada pemahaman budaya lokal. Penyampaian nilai budaya lokal
dilakukan secara komunikatif, interaktif dan bertahap sesuai dengan usia.
Metode ini dilakukan sebab pada usia sekolah dasar anak-anak lebih mampu
menyerap nilai budaya lokal jika konsep pembelajaran budaya lokal dilakukan
sambil bermain. Misalnya, pada beberapa sesi pembelajaran diadakan perlombaan
permainan tradisional serta studi wisata tempat bersejarah. Kegiatan seperti
ini akan mendorong sifat rasa ingin tahu anak-anak terhadap budaya lokal. Namun
di samping itu, satu hal yang perlu
diperhatikan bahwa sebagai pembimbing, seorang guru berkepentingan untuk menjelaskan
nilai esensial dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Dengan demikian, pembelajaran nilai budaya lokal
secara interaktif dan komunikatif akan membantu anak usia sekolah dasar lebih
mudah menyerap materi pembelajaran.
Pada
kurikulum pembelajaran tingkat menengah pertama dan atas, implementasi nilai
budaya lokal ditekankan pada pemahaman secara komprehensif dan pengaplikasian
nilai budaya lokal pada lingkungan sekitar. Pengaplikasian dapat dilakukan
dengan meningkatkan intensitas kegiatan yang bernuansa kearifan lokal misalnya tudang sipulung. Tudang sipulung merupakan budaya politik suku Bugis-Makassar.
Secara harfiah tudang sipulung
berarti “duduk bersama” namun secara konseptual merupakan ruang bagi publik
untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan dalam mencari solusi atas
permasalahan yang sedang dihadapi oleh suatu kelompok atau masyarakat. Tudang sipulung inilah yang merupakan abstraksi
ruang publik otentik yang dapat memediasi antara masyarakat dan pemimpin.
Dengan meningkatkan intensitas kegiatan bernuansa kearifan lokal seperti ini
bukan hanya bertujuan membentuk generasi muda yang cinta budaya lokal akan
tetapi membantu dalam melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang mulai
ditinggalkan.
Sementara
itu, di tingkat perguruan tinggi, pengaplikasian nilai budaya lokal dilakukan
secara paripurna mencakup skala yang lebih luas. Mahasiswa memiliki peran
sebagai agen perubahan, social control,
serta iron stock. Sebagai agen
perubahan, seorang mahasiswa bukan hanya menjadi penggagas perubahan di
masyarakat, namun harus menjadi role
model atas perubahan yang digalakkan. Sehingga, mahasiswa bukan hanya giat
menyuarakan pentingnya nilai budaya lokal, namun harus mencontohkan kepada
masyarakat bahwa mahasiswa adalah generasi bangsa yang memahami dan mencintai
budaya lokal. Oleh karena itu, di setiap gerak-gerik mahasiswa seharusnya
menggambarkan tindakan yang berbudaya. Dengan cara ini, di setiap kegiatan mahasiswa, dampak negatif
seperti tawuran serta orasi yang berakhir bentrokan dapat diminimalisir.
Penginterpretasian
dan pengimplementasian Siri’ Na Pacce
secara tepat akan membentuk generasi muda pemimpin masa depan yang memiliki akhlak
serta moral patriotik. Seperti Sultan Hasanuddin, bukan hal yang tidak mungkin
jika sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, Makassar akan menghasilkan seribu
generasi pemimpin yang mampu bersaing di kancah percaturan dunia.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamonic,
Gilbert. 2008. Nenek Moyang Orang Bugis.
Makassar : Pustaka Refleksi.
Soekanto,
Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta : CV. Rajawali.
Ibrahim,
Anwar. 2003. Sulesana, Kumpulan Esai Tentang
Demokrasi dan Kearifan Lokal.
Makassar
: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin.
Rahman,
Fahri. 2013. Aktualisasi Nilai Budaya
Lokal Dalam Kepemimpinan Pemerintahan di Kota Palopo. Skripsi Sarjana pada FISIP
UNHAS Makassar : tidak
diterbitkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar