Quo Vadis?
“Your future is defined by what you do today, not tomorrow” – Robert T. Kiyosaki
Gelas tidak akan tercipta pada awalnya jika bukan karena fungsinya untuk menampung air. Rumah tidak akan diciptakan jika bukan karena fungsinya untuk dihuni oleh manusia. Pakaian, tidak akan diciptakan pada awalnya jika bukan untuk menutupi bagian-bagian tubuh tertentu. Semua yang ada di dunia ini, telah tercipta dengan segala tujuannya baik itu merupakan tujuan yang spesifik mengarah langsung pada tujuan utama atau tujuan sekunder yang merupakan tujuan lain yang tingkat prioritasnya berada di bawah tujuan utama.
Ketika sebuah rumah dibangun, kita memperhitungkan banyak hal. Mulai dari pondasi, daya tahan konstruksi, model, hingga pada aspek seni dan estetika ruangan. Tujuan utama adalah menciptakan rumah yang layak dihuni, sedangkan pembangunan pondasi yang kokoh, daya tahan konstruksi, model, aspek estetika dan lain-lain merupakan sub-tujuan yang butuh untuk direalisasikan guna mencapai tujuan utama. Sub-tujuan merupakan penyederhanaan tujuan utama menjadi struktur yang lebih kecil yang tetap berkorelasi dengan tujuan utama sehingga progress pencapaian tujuan utama dapat lebih terukur.
“Orang sukses adalah mereka yang menetapkan tujuan serta konsisten menjalaninya, bahkan di setiap jamnya” – Dr. Hasbi pada matakuliah Rekayasa Perangkat Lunak
Tuhan telah menyusun algoritma ini sedemikian rupa sehingga setiap tujuan memiliki sub-tujuan yang inheren terhadap tujuan utama yang kita bangun. Seperti sebuah sistem, sub-tujuan memiliki fungsi independen namun saling bersinergi untuk mencapai sebuah tujuan. Hal yang sama juga terjadi dengan sistem yang kita bangun terhadap diri kita. Namun, yang masih belum kita perhatikan adalah apakah sistem yang kita bangun memang mengarah pada tujuan yang kita inginkan? Bukankah sistem memang dirancang untuk mencapai sebuah tujuan?
Sistem yang baik salah satunya adalah sistem yang dibangun berdasarkan perencanaan yang baik. Perencanaan dibutuhkan untuk membangun keputusan ketika kita dihadapkan pada segelintir pilihan yang harus kita pilih untuk mencapai tujuan kita. Begitu rumitnya penentuan keputusan ini bahkan beberapa orang dengan kasus tertentu memerlukan hitungan statistik seperti memperhitungkan EMV nya, menggunakan pohon keputusan, ataupun algoritma-algoritma yang khusus seperti Iterative Dichotomiser 3 (ID3).
Keputusan yang telah kita tetapkan secara bijaknya merupakan keputusan terbaik pada saat itu, dan jika terjadi kesalahan pada proses selanjutnya seyogyanya merupakan human error yang ditimbulkan akibat pengambilan keputusan yang tidak mempertimbangkan aspek rasionalitas. Human error merupakan hal yang lumrah terjadi dan kadang tidak bisa dihindari dalam pengambilan keputusan mengingat bahwa banyak aspek yang mempengaruhi pengambilan sebuah keputusan. Banyak yang bahkan harus membuat keputusan secepatnya dalam kondisi kritis dan tekanan psikologis yang sangat hebat. Sehingga, apabila kita tidak terlatih dalam membuat keputusan, maka nilai keputusan yang diambil memiliki kualitas yang tidak memuaskan. Oleh karena itu, kembali lagi, setiap orang dituntut memiliki perencanaan terhadap tujuan yang runtut, rasional serta dapat fleksibel menyesuaikan dengan keadaan-keadaan yang faktual.
"Generally, I want to be worthwile for many people and this has never changed. But I have a more specific purpose in accordance with the current conditions. Because my life purpose specifically adjust to current condition, so my life has been appropriate to my vision. Be positive and do not give up!" – Firmansyah Kasim, Kandidat Doktor Muda Universitas Oxford asal Makassar
Cukup sekian pengantarnya, back to reality... :D
Mahasiswa berhak memilih jalannya sendiri ketika ia sudah memasuki dunia kampus yang penuh dengan ideologi dan retorika yang kadang membuat kita berpikir sekian kali dalam menentukan pilihan. Ada yang memilih jalan ‘damai’ dengan menghindari ideologi-ideologi seperti demikian sehingga kuliah bagi dirinya stuck pada kegiatan yang berbau akademik, ada yang mengambil jalan berliku dengan berorganisasi dan mengembangkan potensi lain diluar bidang ilmu yang ditekuninya, dan ada juga yang bahkan memiliki pemikiran hedonistik menyampingkan perkuliahan dan menganggap bahwa kuliah hanyalah formalitas untuk mendapatkan gelar, toh uang kami sekarang cukup berlimpah, urusan kerja juga gampang.
Kasus diatas hanya segelintir dari beberapa kasus yang ada, untuk selanjutnya mari kita berpikir sejenak, berapa banyak jenis mahasiswa yang kita lihat selama ini?
.......................................................................................................................................
Di semester ketiga kemarin, saya baru menyadari bahwa mahasiswa dan organisasi adalah dua hal yang inheren, mengingat bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang cenderung mengorganisir dan memanage urusan-urusannya sendiri. Kehidupan kita dalam bermasyarakat bahkan telah tersusun atas organisasi-organisasi tertentu. Mulai dari peradaban terkecil hingga terbesar yaitu keluarga inti, keluarga besar, masyarakat rukun tetangga, masyarakat rukun warga, masyarakat kota, provinsi, negara bahkan dunia.
Semester Tiga, dan KPI
Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin saya pilih sebagai batu loncatan pertama dalam mengembangkan minat dan potensi saya terkait penalaran dan pengembangan soft skill keilmiahan. First impression saya adalah, orang KPI dituntut untuk selalu membaca buku, kutu buku, tidak gaul, kaku, dan segala hal yang hanya berbau literasi dan non-organisatoris. Tapi satu, dua bulan mencoba untuk masuk merasakan atmosfer organisasi saya kemudian sadar bahwa perbandingan first impression saya dengan fakta berbalik 180 derajat.
Kami Butuh Pembiayaan untuk Keluar Lomba!
Bergabung menjadi salah satu anggota organisasi di kampus mau tidak mau harus mengikuti sistem yang ada. Termasuk kita dapat memanfaatkan celah dari sistem ini sebagai benefit kita akibat berorganisasi. Skill audiensi, ataupun hal-hal terkait pendekatan dengan birokrasi bisa kita maksimalkan menggunakan relasi yang ada. Di UKM KPI Unhas, saya kemudian belajar bagaimana sistem birokrasi berjalan, terutama alur pembiayaan program kerja serta kegiatan-kegiatan yang bersifat kompetisi di tingkat nasional dan Internasional dengan membawa nama almamater. Ini adalah wadah yang baik, mempelajari sistem yang kecil sebagai simulasi dan latihan untuk kemudian di implementasikan pada sistem yang mencakup skala yang lebih besar.
Tanggung Jawab, dan Latihan Bekerja di Bawah Tekanan
KPI adalah organisasi dengan puluhan program kerja. Tentu untuk mencapai tujuan program kerja dibutuhkan profesionalitas dan integritas dalam mengemban amanah. Tidak sedikit pula tekanan yang diterima, sebab banyak waktu yang kita korbankan untuk mencapai tujuan program kerja. Belajar manage waktu adalah kunci terbaik agar semua kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Dan softskill seperti ini sangat berguna dalam dunia kerja.
Semester Lima, dan MUN
Beberapa hari yang lalu, saya join di salah satu organisasi yang bergerak di bidang simulasi sidang untuk PBB. Organisasi yang menurut saya sangat potensial untuk mengembangkan kemampuan negosiasi serta speaking dalam bahasa Inggris.
Model United Nations (MUN) merupakan organisasi yang bergerak pada bidang simulasi sidang PBB. Biasanya MUN dilaksanakan dalam bentuk konferensi, dimana setiap delegasi negara diminta untuk menyampaikan pendapat, argumen, possible solution sesuai dengan perspektif dari negara yang diwakili.
Organisasi yang cukup awam terutama bagi saya, mengingat bahwa kemampuan berbahasa inggris saya jauh dari kata baik. Tapi organisasi melatih saya untuk mengambil keputusan dan tantangan-tantangan yang baru.
Sebelum dinyatakan lulus, berbeda dengan KPI, MUN mewajibkan adanya position paper yaitu perspektif kita atau negara yang kita wakili terhadap permasalahan global yang terjadi akhir-akhir ini.
Berikut position paper yang saya ajukan pada open recruitment dulu:
A. Khalil Gibran Basir |H13114318
Background of Topics
Committee : United Nations Security Council
Agenda : North Korea Nuclear Weapon Tests
North Korea nuclear weapon tests has conducted five times since 2006 until the recent test on September 9th, 2016. History noticed, it began in the early 1950s with an eager on developing the institutional capability to train personnel for its nuclear program. After signing an agreement with Uni Soviet and China and had been assisted, North Korea’s nuclear program developed largely. North Korea expanded its educational and research institutions to support a nuclear program for both civilian and military applications and began experimenting with the high explosives test required building the triggering mechanism of a nuclear bomb. Hence, North Korea becomes ‘wild’ with its nuclear tests.
Conflict between North Korea and the world has become more complicated. The nuclear crisis on the Korean Peninsula continued to deteriorate throughout 2006, when North Korea conducted its first nuclear weapon test at October at Mount Mantap, Punggye-ri, Gilju-gun, North Hamgyeong Province. The latest, was conducted on September 9th, 2016 which was the biggest of the North’s five tests so far with a yield of 10 kilotons.
However, nuclear weapon is the dangerous weapon in the world. One can destroy a whole city, potentially killing millions, and jeopardizing the natural environment and lives of future generations through its long-term catastrophic effects. Although it is a nuclear weapon test, it is clearly has a very real impact on various aspects, devastating the enjoyment of the rights to life, jeopardises peace, security and stability of regions as well as threaten social and economic development. All of these also have a real impact on the enjoyment of human rights.
Past International Actions
Over recent years, International Community has been offered some solutions with the aim of ending Pyongyang’s Nuclear Weapon Program. One of offered solution is a multilateral dialogue that began in Beijing. It was initially trilateral (China, North Korea, and United States), but in the process, expanded to a six-party format with the inclusion of Japan, Russia and South Korea. After a long negotiation, on September 19th, 2005, the fourth round of Six-Party Talks concluded and the six parties signed a Statement of Principles, whereby North Korea would abandon its nuclear programs and return to the NPT and the IAEA safeguards regime at "an early date. The parties also agreed that the 1992 Joint Declaration on the Denuclearization of the Korean Peninsula, which prohibited uranium enrichment or plutonium reprocessing, should be observed and implemented.
The United Nations also has adopted some resolutions in order to end North Korea’s nuclear weapon test. There are five major resolutions since the first North Korea’s nuclear weapon test in 2006 that impose and strengthen the sanctions on North Korea for continuing to develop its nuclear weapons program. The UN has produced some resolutions, among the other things : UNSCR 1695 (2006), UNSCR 1718 (2006), UNSCR 1874 (2009), UNSCR 1985 (2011) and UNSCR 2087 (2013).
Possible Solutions
Possible solutions that can be offered are :
• Demand that all of U.N. member nations fully implement U.N resolution requirements to prevent all of North Korea’s nuclear activities.
• Identify all North Korean, any assets, banks, business and anything that correlated to North Korea.
• Emphasizing more sanctions for North Korea concern in nuclear test
• Lead an international effort against North Korean illegal activities, including currency counterfeiting and drug smuggling. U.S. law enforcement actions in 2005 against Pyongyang’s accounts in Banco Delta Asia were highly effective, but they were later abandoned in acquiescence to North Korean demands to “improve the atmosphere” for nuclear negotiations.
• Freeze and seize the financial assets of any involved North Korean and foreign person, company, or government entity violating U.N. resolutions and U.S. or international law.
Organisasi, dan Master Plan
Setiap orang sebenarnya dituntut untuk memiliki masterplan yang menggambarkan perencanaan jangka panjangnya terhadap apa yang akan ia perbuat dalam hidupnya kedepannya. Banyak orang yang berpikir “let it flow, and it will guide you to the right faith” , tapi ini sebenarnya adalah bentuk kesalahan berpikir (merupakan fallacy) karena tidak mungkin sebuah tujuan dicapai tanpa kita menyusun kerangka-kerangka yang menjadi pondasi untuk menopang tujuan kita. Layaknya rumah yang telah saya sebutkan sebelumnya, setiap tujuan tersusun atas sistem dan subsistem yang menyokong dan menopang keberadaan tujuan tersebut. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan maka tujuan harus lebih dispesifikkan lagi. Jika perlu, maka tujuan dipecah menjadi beberapa sub-tujuan untuk menyatakan progress agar lebih terukur.
Jalur organisasi adalah simulasi kecil yang mengantarkan kita pada kesiapan untuk menghadapi sistem yang lebih besar daripada sebelumnya. Oleh karena itu, jika kita mau jadi biasa-biasa saja, sekedar bekerja atas nama professionalitas di bidangnya, maka mungkin sah-sah saja karena sebetulnya jalur ini merupakan comfort zone. Tapi jika kita adalah tipe orang yang ingin mengubah sistem, maka tidak cukup bekerja atas nama professionalitas di bidangnya, perlu softskill yang mumpuni karena sebuah sistem merupakan organisasi sosial yang terintegrasi dengan pemikiran-pemikiran orang banyak.
Keputusan yang kita tentukan hari ini, akan menentukan kehidupan kita kedepannya. Mari keluar dari zona nyaman kita.
.......................................................................................................................................
“Orang yang paling bijak adalah orang yang tidak pernah menyesali keputusan yang telah dibuatnya” – Dr. Hasbi pada Matakuliah Data Warehouse
Tidak ada komentar:
Posting Komentar