Postingan

Terlalu Lama Sendiri #Part1

“Aku harus berusaha, tapi mulai darimana?” – Kunto Aji

      Beberapa bulan terakhir saya disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang sambung menyambung. Belum selesai kegiatan yang satu, masuk lagi ke kegiatan yang satu. Begitu banyak kegiatan sampai-sampai saya kesulitan untuk mengatur waktu untuk hal-hal yang berbau akademik. Pikiran saya selalu melulu memikirkan apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan saya terkait dengan program-program kerja yang harus saya kerjakan. Alhasil, seluruh waktu saya fokuskan ke hal-hal tersebut.
      Tentunya dengan banyaknya kegiatan yang harus dilakukan berbanding lurus dengan tanggung jawab yang kita emban. Mulai bulan oktober lalu, saya kemudian sadar bahwa waktu bukanlah hal yang mudah untuk diatur. Aturlah waktu, sebelum waktu yang mengaturmu. Dan terbukti, bahwa manajemen waktu saya yang buruk adalah salah satu yang menyebabkan sebuah pekerjaan berjalan lambat untuk saya laksanakan. Waktu kerja normal saya untuk bekerja adalah sekitar 5-6 jam perhari diluar dari kegiatan akademik yang harus saya tunaikan terlebih dahulu. Namun, karena manajemen dan pengalokasian waktu saya akhir-akhir ini sangat kurang baik, saya terpaksa kerja lembur sampai 8 jam kerja.
      Sekitar dua bulan lalu, tepatnya tanggal 20 Oktober saya mengikuti sebuah event focussed group discussion (FGD) yang mengangkat tema tentang Desain Produk di Institut Teknologi Bandung. Saya bersama teman saya, nawir dan kaprodi ilmu komputer, Bapak Armin Lawi, diutus sebagai perwakilan dari Universitas Hasanuddin. Meskipun tidak seluruhnya saya mengerti mengenai FGD nya (karena pematerinya orang bule dan MC nya juga menggunakan bahasa inggris), namun paling tidak saya sangat senang menginjakkan kaki di kampus ini. Terlebih lagi bahwa ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau jawa dan langsung ke tujuan utama saya, Institut Teknologi Bandung.
      Acara diadakan di Aula Barat ITB, sebuah aula bersejarah karena konon katanya ditempat inilah Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno menerima gelar sarjananya di bidang teknik sipil. Terbayang bahwa bagaimana bersejarahnya ITB terhadap pembangunan bangsa ini, terlebih lagi kita mengenal beberapa presiden dan menteri-menteri yang tercatat lulusan dari kampus ini seperti Ir. Soekarno dan Bacharuddin Jusuf Habibie. Ditempat ini kemudian saya berkenalan dengan beberapa orang yang sangat menginspirasi saya untuk berbuat lebih baik lagi, seperti Ketua Jurusan Ilmu Komputer Universitas Lampung, Mas Rangga Firdaus, Ketua IAII, serta Prof. Eko Indrajit yang sempat memberikan sambutan ketika acara Rocket Pocket dimulai. Saya dan teman saya juga sempat berdiskusi dengan dosen dari Universitas Gadjah Mada yang satu meja dengan kami, dan dengan level knowledge yang seadanya, kami sempat stuck untuk menjawab pertanyaannya.
      Berangkat dari Bandung, kembali menuju Makassar. Kami bukannya pulang tanpa membawa sesuatu dari Bandung,  akan tetapi kami membawa sebuah amanah yang sangat besar, melaksanakan event Indonesia Next di Makassar. Bagi yang belum tahu, Indonesia Next itu semacam event sertifikasi bidang ilmu komputer. Ada empat jenis ujian yang disertifikasikan, ada ACA untuk Autocad, ACU untuk Adobe, MOS untuk Microsoft Office, dan MTA untuk Microsoft Technology. Namun, disinilah perjuangan dimulai.

21 Oktober, Pulang Membawa Amanah dan Konferensi Mini Model United Nations
      Sedianya kami sampai hari minggu berada di Bandung, namun saya sengaja mengambil jadwal kepulangan cepat dari Bandung untuk mengikuti Diplomatic Camp Model United Nations, konferensi mini yang diadakan di Villa Ciwangi di Malino. Pesawat dijadwalkan berangkat hari jumat pukul 06.00 dari Bandara Husain Sastra Negara menuju Bandara Sultan Hasanuddin menggunakan pesawat Lion Air. Kami kemudian sampai di Bandara Sultan Hasanuddin sekitar pukul 09.00 tepat dan menunggu untuk tumpangan menuju ke kampus Unhas. Singkat cerita, saya tidak pulang ke rumah dan melanjutkan perjalanan ke Malino bersama teman-teman Model United Nations.
      Diplomatic Camp diadakan pada tanggal 21 Oktober sampai dengan 23 Oktober di Villa Ciwangi Malino. Acara ini merupakan bentuk inisiasi perkenalan anggota baru MUN dan anggota MUN lainnya. Saya belajar sangat banyak dengan diadakannya konferensi mini ini.
Pertama, value yang bisa saya ambil adalah ada sangat banyak permasalahan yang berkembang di dunia ini dan setiap negara memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap permasalahan yang ada. Namun, meskipun setiap negara memiliki pendapat berbeda, yang harus diutamakan adalah attitude dari delegasi negara tersebut. MUN bukan tempat untuk berdebat, namun tempat untuk berbagi solusi atas permasalahan yang berkembang di dunia ini. MUN mengajarkan saya bagaimana menghargai pendapat dan perbedaan antara satu orang dengan orang yang lain.
      Kedua adalah tetap bertahan pada komitmen negara yang kamu wakili, kalau bisa belajarlah untuk negosiasi dengan delegasi negara lain. Ketika sampai pada unmoderated caucus, kita diberikan waktu beberapa menit untuk menyimak dan melobi delegasi negara lain dan bergabung dengan kubu kita. Manfaatkan kesempatan ini, utarakan semua resolusi yang mungkin bisa ditawarkan oleh negaramu. Secara tidak langsung, saya merasa bahwa diplomat adalah pahlawan negara. Sebab, seorang diplomat diharuskan untuk mempertahankan wibawa negara. MUN mengajarkan nasionalisme kepada saya secara tidak langsung.
      Ketiga yang paling penting, jangan pernah takut berbahasa inggris. Konferensi mini yang diadakan di Villa Malino ini seyogyanya merupakan bentuk latihan bagi saya untuk advance di speaking english.  “Even you didn’t know anything, just moving forward”. Ini yang saya rasakan. Ini adalah konferensi pertama saya, dan saya tidak tahu apa-apa tentang ini. Saya benar-benar berangkat dari nol. Bahkan moderated caucus dan unmoderated caucus saya tidak mengerti sama sekali. Jadilah saya orang paling terbelakang dalam forum ini. Namun, malu bertanya sesat di jalan, saya terus bertanya kepada orang yang ada di sebelah saya, dan saya kemudian mengerti bagaimana konferensi di MUN dijalankan.

23 Oktober sore hari dan hujan deras, saya kemudian pulang kembali ke kampus dengan membawa banyak pelajaran yang tidak saya terima di ruang kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Andi Khalil Gibran Designed by Templateism | MyBloggerLab Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.