It's hard to believe the faith that we are no longer young as a teenager back then. We have been forced to accept what we don't want to experience, changing our choice at a crucial time. Maybe, It's too late to say, but I'm going to end all the tears that frighten me lately. I realized that there's no time to fill my day with regrets, I have so many responsibilities to be done, the show must go on. Whatever the choice and faith are waiting for me ahead, I hope, the choice I made will be the best choice to keep myself growing up. I will be waiting for you in another life.
Postingan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Video Populer
Baca Juga
-
Siri’ Na Pacce : Falsafah yang Rentan Salah Interpretasi Oleh : A. Khalil Gibran Basir Jika dahulu hanya dibutuhkan seorang Sult...
-
Mencari Titik Keadilan di Ranah Pendidikan Oleh : A. Khalil Gibran Basir Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupa...
-
REFLEKSI TENTANG KOTAK KECIL Oleh: A. Khalil Gibran Basir Angkatan VII Ilmu Komputer Universitas Hasanuddin Ketua Panitia Anniversary k...
-
Kembali, pada satu kegilaan masa remaja yang seharusnya sudah terjalani Lewati, dalam hening dosa dan dua belas bulan yang terlewati Sebu...
-
“Aku harus berusaha, tapi mulai darimana?” – Kunto Aji Beberapa bulan terakhir saya disibukkan dengan berbagai macam kegiatan y...
-
Quo Vadis? “Your future is defined by what you do today, not tomorrow” – Robert T. Kiyosaki Gelas tidak akan tercipta pada aw...
-
Pantaskah Kita disebut “Generasi Micin” ? Pernahkah kita berpikir bahwa hampir setiap istilah beken yang kita dengar saat ini merupaka...
-
“Tertawalah bersama proses, bukan menertawainya. Kegagalan sejati hanya milik mereka yang tidak paham esensi gagal sebenarnya” - akhalilgib...
-
Ada banyak orang yang memilih untuk hidup lebih tenang dalam zona nyamannya dibandingkan dengan turun ke dalam suatu wadah yang menyita ban...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar