Kamu tahu?
Jarak bukan seberapa jauh tempatku dan tempatmu
Karena saat ini, sejauh apapun tempatmu
Akan kusinggahi dengan hanya menekan tombol di papan gawaiku
Tapi, aku mulai berpikir
Bahwa jarak adalah tentang
Bagaimana pikirku, pikirmu
Bahwa jarak adalah tentang
Bagaimana pikirku, pikirmu
Yang begitu jauh
Meskipun saat ini, kita tidak kemana-mana
Sontak pikiranku menjadi liar, melangkah lebih jauh lagi
Adakah yang lebih jauh dari itu?
Ada
Ada
Kucoba temukan dengan menggali lagi apa arti eksistensiku
Bukan, bukan tentang rasaku dan rasamu
Atau tentang logikaku dan logikamu
Lalu apa yang jauh?
Pikiranku menggali dengan keras
Yang jauh adalah, ketiadaan
Ketiadaan empatimu
Ketiadaan rasa bersalahmu
Ketiadaan Allah dihatimu
Ketiadaan empatimu
Ketiadaan rasa bersalahmu
Ketiadaan Allah dihatimu
Meskipun kau tahu bahwa Ia selalu dekat
Meskipun kau tahu bahwa Ia selalu ada
Meskipun kau tahu bahwa Ia selalu ada
Meskipun kau tahu bahwa kau ada karena berpikir bahwa Dia ada
Logikaku kemudian berontak
Mengapa ada sesuatu yang dekat tapi terasa jauh?
Bukankah Ia selalu mendekatkan diri kepada hamba-Nya?
Lantas mengapa merasa jauh?
Bukankah Ia selalu mendekatkan diri kepada hamba-Nya?
Lantas mengapa merasa jauh?
Hari ini aku masih mencari jawabannya
Meskipun aku terus mendekatkan diri kepada-Nya
Entah bahwa eksistensiku hari ini adalah eksistensiku di hari kemarin
Ataukah eksistensiku hari ini akan menjadi eksistensi di hari esok?
Entah, siapa yang tahu
Entah bahwa eksistensiku hari ini adalah eksistensiku di hari kemarin
Ataukah eksistensiku hari ini akan menjadi eksistensi di hari esok?
Entah, siapa yang tahu
Kita terus lah saja berdoa
Semoga diberikan umur yang panjang
Agar dapat memanjangkan rasa syukur kita kepada sang-Pencipta
Yang hanya Satu dan Maha Agung
Allah SWT.
Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar